Arsip Blog

Vale Tudo

Vale tudo dalam bahasa Portugis yang berarti “apapun bisa” adalah gabungan dari berbagai macam beladiri. Bela diri ini populer di sirkus Brasil selama tahun 1920-an. Dari tahun 1960 dan seterusnya, vale tudo akan tetap merupakan kebudayaan tersembunyi, dengan sebagian besar hanya dipakai di dojo seni bela diri atau gimnasium kecil. Kebudayaan vale tudo terutama yang berbasis di Rio de Janeiro, tapi banyak perkelahian juga berlangsung di wilayah utara, serta wilayah selatan dan negara bagian Bahia.

Kenpo

Kenpo (拳法?) adalah nama dari beberapa seni bela diri. Kata kenpo adalah terjemahan bahasa Jepang dari kata Cina “quánfǎ”. Istilah ini diterjemahkan sebagai ” Kempo ” sebagai hasil penerapan tradisional. Akibat dari adopsi definisi yang luas dan lintas-budaya dalam komunitas seni bela diri menyebabkan kenpo memiliki banyak definisi yang berbeda.

Penggunaan Kenpo di Jepang
Dalam seni bela diri Jepang, Kenpo digunakan untuk memilih seni bela diri Cina. Kata “M” dalam pelafalan kenpo sering disukai saat menjelaskan seni seperti dalam konteks Jepang untuk menghindari kerancuan dengan istilah diromanisasi sebagai “Kenpo” dalam pemerintahan Jepang dan beberapa bentuk kenjutsu, seperti yang dipraktekkan dalam Bujinkan.

Kenpo Amerika
Kenpo juga telah disesuaikan sebagai istilah modern: nama untuk beberapa seni bela diri yang dikembangkan di Hawaii karena pertukaran lintas-budaya antara praktisi seni bela diri Ryukyuan, seni bela diri Cina, seni bela diri Jepang dan beberapa pengaruh tambahan. Di Amerika Serikat, Kenpo sering disebut sebagai Kenpo Karate. Gaya Kenpo Karate diajarkan oleh pendiri James Mitose. Kenpo karate yang kemudian dikembangkan oleh Ed Parker, mempekerjakan lebih gerakan melingkar dengan teknik klasik Cina yang terkenal.

Penggunaan Kenpo di Okinawa dan Ryukyuan
Beberapa kelompok seni bela diri Okinawa, istilah Kenpo digunakan sebagai nama alternatif untuk sistem karate mereka atau seni bela diri yang berbeda tetapi terkait di dalam asosiasi mereka. Penggunaan kata “n” maupun “m” tetap digunakan oleh kelompok lain.

Miko

Miko (Harafiah:”dukun wanita”) adalah istilah jepang yang berarti jaman dulu seorang dukun perempuan atau roh media yang menyampaikan pesan dari “kami”(roh-roh,dewa-dewa). Dan saat ini berarti “Perawan suci:perawan dipersembahkan kepada Dewa” yang melayani kuil di Shinto. Miko modern sering melakukan tarian upacara, menawarkan keberuntunagn omikuji dan menjual souvenir. Pakaian tradisional miko terdiri dari (panjang, celana panjang dibagi), sebuah haori putih (jaket kimono), pita rambut merah, dan hakama putih atau merah. Dalam Shintoism, warna putih melambangkan kemurniaan.

Hakama

Hakama adalah pakaian yang dipakai olah para samurai dan biasanya dipakai oleh laki-laki. Fungsi pakaian ini adalah untuk melindungi kaki dari luka lecet. Hakama memiliki 7 lipatan yang memiliki makna masing-masing. Karena itu, memakai dan melipat hakama tidak boleh sembarangan. Beladiri yang memakai hakama sebagai seragamnya adalah aikido dan kendo.

Jinbei

Jinbei adalah pakaian tradisional Jepang yang digunakan untuk tidur. Pakaian ini terdiri dari atasan dan bawahan pakaian. Umumnya bagian bawahan berbentuk celana.

Onmyouji

Onmyouji adalah pegawai negeri sipil milik biro onmyou dalam sistem Ritsuryo Jepang kuno dan merupakan pengguna ilmu onmyoudo. Onmyouji ahli dalam sihir dan ramalan. Tanggung jawab mereka adalah melacak kalender, ramalan, mengusir roh jahat, mengandalikan dan memanggil shikigami.
Onmyouji yang terkenal adalah Abe no Seimei dan dan Kamo Yasunori (921-1005). Onmyouji memiliki pengaruh politik pada masa Heian. Tapi ketika istana jatuh, keberadaan mereka menghilang. Tokoh onmyoji pun tidak jarang ada di karakter anime terkenal. Salah satunya adalah Hao Asakura dari anime shaman king, Abe no Masahiro dari anime shonen onmyouji, dan Lin Koujou dari anime ghost hunt.

Ofuda

Ofuda adalah jimat yang berbentuk secarik kertas atau sepotong batang kayu yang bertuliskan nama kami (dewa) atau kuil Shinto yang membuat jimat tersebut. Biasanya, ofuda ditempel di pintu, gerbang, tiang, atau langit-langit denagn tujuan agar tempat yang ditempeli ofuda tersebut terlindung dari bencana.
Biasanya yang menggunakan jimat ofuda adalah pendeta kuil, miko, dan onmyouji. Dalam anime, manga, dan legenda Jepang, ofuda digunakan untuk mengusir dan menyegel roh jahat.