Perawat Atau Peramu Sosial?

Assalamualaikum

Balik lagi dengan uneg-uneg yang pengen dikeluarin. Ini dimulai dimana masa saat setelah wisuda saya.

Bisa dibilang di masa setelah wisuda itu masa yang bikin sibuk plus galau. Sibuk karna nyiapin berkas-berkas yang dibutuhin untuk lamaran kerja dan galau karna tes masuk dan kepikiran diterima apa nggak. Sebagai lulusan D3 Keperawatan, tentu melamar kerja di RS, PUSKESMAS, klinik, atau kadang di klinik kecantikan sama asuransi. Saya melamar kerja dari yang hanya SKL, terus ijazah turun, sampai turun Surat Keterangan Proses Pembuatan STR. Dan ini lumayan lama nunggunya plus STR yang keluarnya bisa setahun, hadeeeh=_=

Alkisah dimulailah perjuangan saya, teman-teman seangkatan saya, dan lulusan D3 Keperawatan 2015 lain diluar sana yang berusaha melamar kerja yang terutama pasti ke RS yang diinginkan. Saya pun juga melamar kerja langsung ke tempatnya, lewat pos, lewat e-mail, dan di situs pencari lowongan kerja(banyak amat yaO.o)

Dan dari perjuangan melamar kerja ini, bukan berarti tanpa hasil kok (saya akui IP saya mengkhawatirkanT_T). Saya dipanggil di RS, klinik dan perusahaan. Tapi…. semua nggak semudah itu. RS yang pertama kali memanggil saya gajinya kecil, nggak smp 1,5 malah, RS yang kedua gaji 1,7 tapi sistem denda, RS ketiga, keempat ma kelima saya udah berharap diterima di sana tapi nggak dipanggil lagi. Yang di klinik gk dipanggil lagi sama yang perusahaan hati nggak sreg. Ya Allah itu bener-bener masa galau saya apalagi kalau baca status temen yang udah pada kerja bisa 10x lipat galaunyaT_T

Suatu hari ada teman kampus yang ngajak melamar kerja di Panti Sosial. Teman saya ini pintar dan masuk 16 besar. Anaknya manis, baik, nggak sombong (nggak kayak si itu). Kami dulunya nggak terlalu dekat lho. Kami cuma sekedar say hai kalau ketemu, kadang makan siang ketemu, dan pinjem mukena kalau sholat. Kami juga punya teman-teman dekat masing-masing. Saya dan dia baru dekat akhir-akhir ini karna melamar kerja. Dia BBM saya udah kerja apa belum dan karna sama-sama belum kerja jadi galau bareng.

Balik ke Panti Sosial, ternyata jauh sebelum wisuda dia pernah ditawarin kerja di Panti Sosial sama kepala panti saat itu (Bapak teman saya ini punya bengkel yang jadi langganan mobil dinas sosial tersebut) tapi dia nggak mau karna nunggu panggilan di salah satu RS besar di Jakarta. Mungkin karna udah galau nganggur terus, akhirnya dia mau coba di panti tersebut walau nggak tau masih terima apa nggak. Kami berdua ke panti tsb bersama seorang teman kampus pria. Dan hasilnya, udah nggak bisa. Yaudah kami kecewa dan saya udah nggak mikirin lagi.

Suatu hari, dia BBM saya masih minat di panti apa nggak. Kubilang mau karna udah galau nggak kerja-kerja. Nggak langsung kerja, dia belum bilang secara langsung ke orang atas tapi udah bilang ke orang kantornya. Tiba-tiba saya ditelpon sama dia hari Minggu buat dateng secepatnya ke panti, orang atas panti mau ketemu saya. Dengan kecepatan maksimum ngeprint berkas lamaran kerja dan naik angkot, Alhamdulillah saya sampai panti dan mulai hari senin udah kerja (tanpa tes, tanpa masa percobaan, tanpa denda, dan tanpa tahan ijazah asli kurang enak apa lagi?) dan di panti untuk saat ini belum ada sistem shift jadi enak.

Jujur selama kerja, saya merasa enjoy walau ada sedikit insiden gara-gara infus (bukan salah obat atau salah pasien lho). Sistem kerjanya setiap jam setengah 6 atau kurang (tergantung ruangan kakek/nenek renta, setengah renta atau mandiri) kita harus bersihin ruangan yang jadi tanggung jawab kita. Ruangan harus bersih, wangi dan kakek/neneknya juga rapi dan wangi dan pulangya jam 5 sore. Kalau kupikir-pikir mang panjang waktu kerjanya tapi nggak masalah toh nggak ada pemberian obat lewat infus dan nggak perlu hadapin komplen keluarga pasien kan pasiennya kakek/nenek yang terlantar jadi santai aja. Itu pemikiranku selama 2 bulan ini. Dan 2 bulan saya mengalami denial karna faktor teman yang bekerja di RS. Setelah cukup lama mikir, akhirnya saya ikhlas untuk bekerja di Panti Sosial untuk setahun.

Baru akhir-akhir ini, saya berpikir saya dan teman-teman lain yang notabene pendidikan PERWAT malah bekerja juga sebagai PERAMU SOSIAL. Awalnya nggak terlalu saya pikirkan tapi setelah dipikirkan lagi…. kami double job (karna mengetik juga jadi three job?), capek luar biasa tapi kadang nggak dihargai. Kami membersihkan ruangan, mengatur makanan biar teratur, mengawasi kakek/nenek kalau mandi, mengobati kakek/nenek yang sakit, merujuk kakek/nenek yang sakit, mencatat stok obat yang habis, mengetik hasil TD sama terapi obat, dll. Dan catatan karna membersihkan ruangan juga jadi kami juga harus datang pagi. Bisa jam setengah 6 atau mungkin jam 5 pagi udah mulai bersihin ruangan. Kami perawat: habis bersihin ruangan, sarapan (kalau sempet), mandi, langsung stand by di klinik melayani kakek/nenek atau bahkan karyawan panti sampai sore, mondar-mandir kalau ada yang sakit, merujuk kakek/nenek yang sakit sampai malam dengan besoknya tetep kerja (hahaha strong kan?). Kalau peramu sosial: habis bersihin ruangan, sarapan, mandi, istirahat sebentar, ke ruangan kakek/nenek ngawasin sambil duduk nonton tv sampai jam makan siang abis itu bisa istirahat atau tidur sampai makan sore (hahaha jauh banget bedanya). Bisa aja tidur kalau kami benar-benar udah beneran capek atau sakit. Hahaha kadang pas waktunya makan siang atau kelihatan lagi makan ada aja yang minta dilayanin( hadeeeh=_=).

Nggak salah apalagi dosa tapi tetap nggak maksimal kerja kami. Ini terasa kalau kami pegang ruangan sendiri atau yang renta, aduh capeknya bukan main dan kadang kita dianggap nggak memperhatikan kakek/nenek. Baru-baru ini ada nenek yang cuma sakit gigi sampai orang panti di kantor heboh dan minta tolong dibawa ke rumah sakit, hello kita kan punya dokter puskesmas, nggak lucu kan dateng ke igd dengan diagnosa sakit gigi? Kalau dokter puskesmas bisa kenapa nggak? Bukan saya nggak ikhlas kerja tapi saya pengen ngeluarin pikiran aja (hei ini blog saya jadi nggak apa-apa donk^_^) And last masalah gaji. Jujur gaji UMR Jakarta untuk perawat baru belum tentu dapet lho kecuali untuk RS swasta orang elit, temen-temen deketku aja belum dapet gaji sebesar ini di RS biasa bahkan di RS besar punya pemerintah(hahaha). Gaji mang oke kuakui but kalau di panti diliat dari pendidikan… semua sama. Bahkan ada lho peramu sosial di tempat saya yang masih 17-18 tahunan. Dipikiran banyak orang perawat kerja di panti itu enak. Nggak infus pasien, nggak da komplen pasien, obat sebagian besar obat dari mulut, nggak da shift malem, dll. Tapi coba rasain kerja di sini, enak tapi makan hati mulu. Dibilang nggak becus ngobatin nenek/kakek sakit, kerjanya CUMA duduk di klinik, dll. Bahkan saya pernah difitnah ada nenek BABnya perdarahan tapi nggak diurus sama peramu sosial yang seruangan sama saya. Oke saya memang nggak pinter sama lamban tapi saya nggak bakal biarin pasien yang kayak gitu kok. Pas dicek atasan sama senior saya cuma diare biasa, Astagfirullah. Ya Allah bener-bener ada aja orang kayak gitu di siniT_T. Dan kenapa selalu yang dibahas pimpinan selalu peramu sosial. Petugas kesehatan terutama perawat nggak diperhatiin samasekali. Dan kalian tahu, sebagian besar obat di klinik itu hasil sumbangan lho bukan beli sendiri, hahaha nasib-nasib. Ntar kalau sampai semua perawat di sini keluar baru tahu rasa. Jahat emang tapi saya pengen lihat reaksi orang kantor sama peramu sosial kalau nggak ada perawat sama sekali di klinik^o^

Saran saya untuk perawat yang bekerja di Dinas Sosial, lebih baik nggak pegang ruangan atau kalau pegang ruangan, ruangannya yang mandiri (saya lebih menyarankan nggak pegang ruangan sih). Mulainya jam 8 pagi sampai jam 5 sore atau sistem shift. Sistem kerjanya kita keliling ke ruangan yang dibagi buat lihat keadaan kakek/nenek, peramu sosial juga harus kerja sama dan melaporkan ke perawat kalau ada kakek/nenek yang sakit, jadwal ukur tekanan darah 2x seminggu kecuali yang punya darah tinggi atau sakit dan untuk kakek/nenek yang renta alias total di tempat tidur, setiap pagi lakukan ROM pasif, kalau peramu sosial yang pegang ruangan tersebut juga boleh sambil diawasin perawat. Untuk sistem shift, sama kayak di rumah sakit dengan sistem operan kalau ada kakek/nenek yang sakit. Tapi karna panti sosial tempat saya bekerja ini kakek/neneknya sehat jadi sistem shift agak kurang cocok.

Dan terutama, tolong hargai kami para perawat. Sekolah kami nggak murah lho nggak kayak kalian yang kuliah hari sabtu atau minggu. Kami kuliah itu 6 hari dalam seminggu itu pun libur sehari belum tentu bebas dari tugas. Tugas kami lebih berat dari kalian karna harus memperhatikan kesehatan kakek-nenek, nggak seperti kalian yang abis bersihin ruangan, kasih makan, mandi, kasih makan siang, istirahat, mandiin sore, kasih makan sore terus pulang. Kalau kami udah bersihin ruangan, bersihin klinik, makan atau mandi, harus jaga klinik, kasih obat kalau ada yang sakit, kasih makan siang, jaga klinik, mandiin sore, kasih makan sore baru pulang. Ini pun hanya berlaku untuk saya karna saya pulang-pergi. Sisanya itungannya dianggap 24 jam karna anak perantauan jadi tinggal di rumah dinas jadi kalau ada apa-apa tinggal ketok pintu sama satpam atau peramu yang tinggal di panti. Jadi secara rasional kami lebih berat dari kalian peramu sosial jadi tolong hargai kami walau hanya sedikit, hehehe maaf jadi curhat jadinya. Saya nggak pandai menyampaikan perasaan secara lisan jadi lebih enak kalau lewat tulisan, inilah gunanya blog bukan?^_^

Iyap sekian uneg-uneg dari saya. Semoga kedepannya tenaga kesehatan khususnya perawat lebih diperhatikan lagi nasibnya di panti sosial.

Waasalamualaikum

Posted on 3 Mei 2016, in diary and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan komentar disini^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: